Senin, 21 Agustus 2017

Penjelasan tentang 6F dan 6G pipa

                                          penjelasan

6F : Pengelasan sambungan sudut / filter posisi sumbu berbentuk sudut 45° tidak di putar pada pipa dengan proses las manual.

6G : Pengelasan sambungan sudut / Butt Grave posisi sumbu membentuk 45° tidak dapat di putar pada pipa dengan proses las busur manual.

Power Point :


Video :

Jobsheet :

Jobsheet :
A.   TUJUAN :
Setelah melaksanakan pembelajaran peserta diharapkan akan mampu : 
1.    Menggunakan peralatan dan perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja.
2.    Mengatur penggunaan arus pengelasan sesuai dengan pekerjaan.
3.    Menyambung 2 pipa dengan menggunakan las listrik sesuai SOP

B.   ALAT DAN BAHAN :
       1.Alat : 
a.    Seperangkat peralataan las busur manual.
b.    Alat keselamatan dan kesehatan kerja kerja.
c.    Lembaran kerja/gambar kerja
2. Bahan : 
a.    Plat baja karbon ukuran 50 x 20 mm (2 buah)
b.    Elektroda E 6013 dengan diameter 2,6 mm

C.   KESELAMATAN KERJA : 
      1.  Periksa persambungan kabel-kabel las. Jaga agar tidak ada yang kurang kuat/ longgar.  Jauhkan benda-benda yang mudah terbakar dari lokasi pengelasan.
    2.  Gunakan alat keselamatan dan kesehatan kerja yang layak dan sesuai dengan fungsinya. 
    3. Jangan gunakan tang dan kabel las yang tidak terisolasi.
      4. Bekerjalah pada ruang las dengan sirkulasi udara / ventilasi yang cukup.
   5. Usahakan ruang las/ tempat pengelasan tidak terbuka, sehingga cahaya las tidak mengganggu lingkungan/ orang lain yang berada di sekitar lokasi. 
     6.  Bertanyalah pada Instruktor/ pembimbing jika ada hal-hal yang tidak dimengerti dalam melaksanakan pekerjaan. 
    7.   Bersihkan alat dan tempat kerja setelah selesai bekerja.

D.   LANGKAH KERJA :
    1.   Siapkan 2 bahan las dengan ukuran masing-masing 50 x 20 mm, kikir/ grinda bagian-bagian yang tajam.
 2.Dekatkan 2 pipa yang akan dilas kemudian tempatkan dimeja las


   3. Atur amper pengelasan
   4.  Buat las titik dibagian kedua ujung benda yang akan disambung

                                                                                           
 5. Bersihkan kerak hasil las titik tersebut dengan Palu, setelah bersih dari kerak lakukan pengelasan pada sambungan pipa besi


    6. Dinginkan dan bersihkan bahan sebelum diserahkan pada Instruktor/ pembimbing.
   7. Periksakan hasil las yang dikerjakan pada Instruktor/ pembimbing

  8.Lakukan pengelasan ulang sesuai petunjuk Instruktor/ pembimbing, jika belum mencapai kriteria.

A.      Prosedur Umum
Secara umum, prosedur-prosedur yang harus dilakukan setiap kali akan, sedang dan setelah pengelasan adalah meliputi hal-hal berikut ini :
Adanya prosedur pertolongan pertama pada kecelakaan ( P3K ) dan prosedur penanganan kebakaran yang jelas/tertulis.
Periksa sambungan-sambungan kabel las, yaitu dari mesin las ke kabel las dan dari kabel las ke benda kerja / meja las serta sambungan dengan tang elektroda. Harus diyakinkan, bahwa tiap sambungan terpasang secara benar dan rapat.
Periksa saklar sumber tenaga, apakah telah dihidupkan.
Pakai pakaian kerja yang aman.
Berdiri secara seimbang dan dengan keadaan rileks.
Selalu gunakan kaca mata pengaman ( bening ) selama bekerja.
Periksa, apakah penghalang sinar las/ ruang las sudah tertutup secara benar.
Konsentasi dengan pekerjaan.
Setiap gerakan elektroda harus selalu terkontrol.
Tempatkan tang elektroda pada tempat yang aman jika tidak dipakai.
Bersihkan terak dan percikan las sebelum melanjutkan pengelasan berikutnya.
Matikan mesin las bila tidak digunakan.
Jangan meninggalkan tempat kerja dalam keadaan kotor dan kembalikan peralatan yang dipakai pada tempatnya.

B.      Persiapan Peralatan dan Bahan Las
Secara umum peralatan yang diperlukan untuk pengelasan pipa dan pengelasan pelat adalah sama, namun untuk posisi 6F dan 6G diperlukan alat bantu untuk menjaga agar posisi pipa yang dilas cukup kuat dan kokoh pada keadaan miring 45o, yakni berupa dudukan atau klem yang dapat diatur secara fleksibel. Tapi pada pekerjaan di lapangan dapat dilakukan dengan memberi penyangga, penguat atau dengan memberi las catat pada bagian yang aman dan tidak merusak benda kerja.

Adapun persiapan bahan las (pipa) pada prinsipnya tidak berbeda untuk tiap posisi pengelasan, baik persiapan sambungan sudut ( fillet) maupun untuk sambungan tumpul ( butt) kecuali WPS untuk pekerjaan tertentu menghendaki lain. ( Metode-metode persiapan tersebut telah dibahas pada Teknik Pengelasan Pipa Posisi 1F, 2F, 1G dan 2G serta 5F & 5G dengan Proses SMAW)

C.      Metode-metode Pengelasan
1.       Las Catat ( Review )
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan las catat ( tack weld) pada pengelasan pipa adalah sebagai berikut : 
Bahan las harus bersih dari bahan-bahan yang mudah terbakar dan karat.
Jumlah las catat pada pengelasan pipa secara umum adalah 3 sampai 4 las catat atau tergantung pada WPS pekerjaan tersebut.
Agar lebar gap ( root gap) sama di sekeliling pipa, maka sebaiknya gunakan pasak atau pembatas setebal gap pada saat las catat dilakukan.
Panjang las catat adalah antara 2 – 3 kali tebal pipa yang dilas atau sekitar 20 mm.


Secara umum tidak ada perbedaan teknik pembuatan las catat untuk semua posisi pengelasan. ( Metode-metode pembuatan las catat tersebut telah dibahas pada Modul Pengelasan Pipa Posisi 1F, 2F, 5F dan 1G, 2G, 5G dengan Proses SMAW).




2.       Penempatan Benda Kerja ( Pipa )
Penempatan pipa/ benda kerja pada pengelasan posisi 6F dan 6G adalah posisi di mana pipa ditempatkan pada posisi sumbu sudut 45 derajat serta tidak dapat diputar (posisi tetap), baik pada sambungan sudut maupun pada sambungan tumpul dengan penyimpangan sudut tidak lebih dari 5 derajat.

3.       Arah Pengelasan
Arah pengelasan (elektroda) pada proses las busur manual pada posisi 6Fdan 6G terdiri dari: arah naik dan arah turun, dimana penerapan kedua arah pengelasan tersebut harus mengacu pada tuntutan pekerjaannya atau WPS.

Secara umum untuk pengelasan root dengan menggunakan elektroda cellulose diterapkan pengelasan arah turun dan jika menggunakan elektroda low hydrogen adalah arah naik, sedangkan untuk pengisian ( filler) dan pengelasan akhir ( capping) diterapkan arah naik, kecuali WPS pekerjaan tersebut menentukan arah turun.

Ketentuan-ketentuan arah pengelasan pipa pada posisi 6F dan 6G relatif sama dengan pengelasan pada posisi 5F dan 5G, dimana jika mulai dari arah atas, maka dimulai dari posisi jam 11.00 atau jam 01.00 (sudut 30 derajat dari titik puncak) melintas posis jam 05.00. Sedangkan jika pengelasan dilakukan dimulai dari bawah, maka setengah jalur pengisian pertama pada posisi jam 05.00 atau jam 07.00.


4.       Gerakan Elektroda dan Urutan Pengelasan
a.       Pengelasan Sambungan Sudut atau Pipa-Flens :
Pada pengelasan sambungan sudut atau pipa-flens posisi 6F umumnya dilakukan arah naik. Untuk pengelasan jalur pertama diterapkan bentuk gerakan/ ayunan segi tiga (miring sesuai dengan kelengkungan pipa ) atau zig-zag miring ( whip action ), sedang pada jalur-jalur berikutnya sangat tergantung pada bentuk jalur pertama. Jika hasil dari pengelasan jalur pertama cukup lebar dan rata, maka dapat diterapkan bentuk ayunan zig-zag ( straight weave ) atau ½ C ( curved weave ) dengan menahan sedikit lebih lama pada sisi atas, tapi jika hasil jalur pertama masih cukup sempit (membentuk sudut), maka ayunannya masih tetap seperti jalur pertama ( segi tiga ) atau dapat diterapkan bentuk kotak ( box weave ).

b.       Pengelasan Sambungan Tumpul :
Pada sambungan tumpul kampuh V posisi 6G, dapat dilakukan arah turun atau naik. Terutama jika melakukan pengelasan jalur pertama ( root pass) menggunakan elektroda cellulose biasanya diterapkan arah turun dengan menerapkan ayunan bentuk zig-zag miring ( whip action) atau hanya ditarik saja (tanpa diayun), dan ayunan segi tiga atau ½ lingkaran jika menggunakan elektroda low hydrogen (arah naik).

Sedangkan untuk pengelasan pengisian dan akhir ( filler dan capping) dapat diterapkan ayunan yang sama dengan pengelasan sambungan sudut ( fillet).


c.       Urutan Pengelasan :
Urutan pengelasan sambungan sudut pada pipa atau pipa-flens adalah relatif sama dengan urutan pengelasan sambungan sudut posisi tegak pada pengelasan pelat dan pengelasan sambungan tumpul ( kampuh V ) pada pipa adalah relatif sama dengan pengelasan sambungan tumpul pada pelat pada posisi tegak.



   Soal : 
1. Apa yang di sebut posisi pengelasan sambungan 6F/6G pipa...
2. Pada sambungan apakah posisi pengelasan sambungan 6F/6Gpipa...
3. Pada pengelasan sambungan 6F pipa cairan logam cenderung mengalir ke...
4. Berapa derajat elektroda yang akan di miringkan pada saat mengelas sambungan 6F/6G pipa...
5. Elektroda apakah yang dipakai untuk pengelasan sambungan 6F/6G pipa...
6. Sebutkan alat utama yang di gunakan untuk mengelas sambungan 6F/6G pipa...
7. Berapa ampere yang dipakai pada saat melakukan pengelasan sambungan 6F/6G pipa...
8. Cacat apakah yang sering terjadi pada saat melakukan pengelasan sambungan 6F/6G pipa...
9. Bagaimanakah cara pengatasi cacat las tersebut..
10. Kenapa bisa terjadi cacat las pada plat saat melakukan pengelasan sambungan 6F/6G pipa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar